Thursday, 24 January 2013

Habibie & Ainun

Baca cerita sebelumnya di sini
Tia (adit_adit) maaf yah saya buat cerita lanjutannya sendiri :D
Ini adalah ending versi saya sendiri :)
____________________________

Putih berkilau. Sederhana tapi tetap elegan.

Gaun itu baru tiba tadi pagi. Sejak dulu aku memimpikan untuk mengenakan gaun pengantin seperti ini. Sekarang setelah mendapatkannya entah mengapa rasanya datar. Hanya sebuah rasa kagum tanpa dihiasi rasa bahagia.

Hanya sebulan aku dan Richard mempersiapkan semuanya. Tinggal menyebar undangan dan menunggu eksekusi utama. Sebuah ikatan suci yang membuatku tak bisa lepas dari Richard. Pangeran masa kecilku.

Sejak meninggalkan Nara sendirian di dermaga, tak pernah lagi aku melihat orang yang telah merebut kebahagiaanku dengan Adam. Setiap malam aku terus memikirkan malam dimana Nara ada di sampingku. Entah mengapa bayang malam itu tak pernah lepas dariku.

Tapi sudahlah, untuk apa aku memikirkan pria lain sementara aku sudah punya pangeranku. Richard sebentar lagi akan pulang. Seperti biasa aku menungguinya sendirian. Sendiri dalam sepiku. Dan meski Richard selalu ada di ujung penantianku setiap hari, tetap saja tak bisa mengobati sepiku.

Trek...trek...

Sms. Dari Richard.
Sayang, aku pulang telat
Kamu gak usah nungguin aku.
Love you. :*

Semakin panjang kesendirianku hari ini. Aku ingin menghirup udara segar. Keluar sebentar mungkin akan menghibur.
***

Aku duduk di studio yang berbeda dari tempat aku pertama kali bertemu dengan Nararya. Aku tak berniat mengingatnya lagi. Tapi tempat ini terus mengingatkanku padanya. Aku masuk ketika film Habibie & Ainun sementara di putar. Aku asal memilih film.

Sedikit harap bertemu dengan Nara, tapi dia tak mungkin suka film ini.

Aku sama sekali tidak begitu masuk pada film ini. Pikiranku melayang pada seseorang. Ku lihat beberapa kali Richard menelpon. Tapi aku sedang tak ingin mendengar suaranya. Nanti juga bertemu sebentar.

"Medina?"

Suara itu...

"Medina?"

 Kepalaku tak sejalan dengan keinginanku. Aku tidak ingin melihat pemilik suara itu. Tapi kepalaku berpaling melihat ke arah sumber suara. Tubuhku mengeras melihat jelas pemilik suara itu. Penonton sudah banyak yang keluar studio.

***

Tak ada yang kami bicarakan selama beberapa menit awal. Yang aku tahu hanyalah kerinduan yang amat sangat terpancar dari mata masing-masing kami.

"A-aku akan menikah"

Mulutku kering. Sesalku ketika melihat ekspresi Nara. Dia hanya tertunduk. Aku bisa merasakan sakit yang dia rasakan. Aku merasakannya...

Karena aku mencintainya, pangeran patah hatiku.

bersambung...


No comments:

Post a Comment