Aku menatap rumah minimalis yang ada di depanku.
Apakah aku siap?
"Dek, bawain kue ini yah ke rumah abang. Daryl suka banget soalnya"
Apa tak seorang pun memahami perasaanku? Apa kurang jelas dipandangan mereka ketika hari-hariku tak pernah terlepas dari makhluk yang namanya Nasya?
"Ma, kenapa nggak mama aja yang bawa sendiri sih?"
"Mama mau arisan di kantornya papa dek. Lagian kamu belum ketemu abang sama Nasya kan? Daryl juga"
Saat Daryl lahir aku tidak berada di sini. Kini dia sudah berumur 5 tahun. Tahun ini dia sudah akan duduk di taman kanak-kanak. Nasya sering men-tag akun facebookku di seluruh foto anak itu. Dia anak yang ceria. Sangat mirip abang waktu kecil tapi kulitnya jauh lebih terang seperti ibunya.
"Mama!!! Ada orang di depan pagar!!!"
Tak ada orang lain selain diriku di depan pagar yang dimaksud.
"Bagas?"
Dia meninggalkan anak itu di depan pintu. Memperpendek jarak denganku.
"Kamu akhirnya pulang Gas, ayo masuk"
Dia jauh berbeda dengan Nasya yang ku kenal. Kini dia lebih anggun, lebih dewasa. Aku mengulurkan tanganku sebagai salam.
"Ah kamu sama aku saja kaku formal begitu"
Nasya membentangkan tangannya lebar dan langsung memelukku. Aroma vanilla ada di sekitar kami. Khas Nasya.
" Ayo masuk"
"Daryl, kasi salam sama papa Bagas"
Bergantian aku menatap Nasya dan Daryl. Anak ini jauh lebih besar dibandingkan di foto. Dia langsung mengarahkan kedua tangannya ke arahku. Minta digendong.
Ragu aku meraih tubuh anak itu. Dia memelukku erat. Ahh. Rasanya telah mengenal anak ini sejak dia lahir. Anak abang dengan Nasya.
Nasya tanpa pamit masuk ke dalam rumah sambil terus tersenyum.
Sya, aku bahagia melihatmu bahagia.
No comments:
Post a Comment