Friday, 11 January 2013

[-496] - Melepas Melodi


Melodi yang mengalun indah seakan berakhir seiring berakhirnya tahun. Bagiku tak ada lagi yang memainkan nada-nada untuk hariku. Saat aku duduk di deretan depan bangku sebuah gereja sederhana yang terletak di atas sebuah bukit. Menyaksikan sebuah putusan yang mengakhiri harapanku.

Dia adalah gadis yang aku kenal hampir seluruh hidupku. Gadis yang selalu ada untuk saling berbagi suka dan duka. Setiap jejak hidupku selalu ada dia yang menjadikannya lebih indah.

“Maafkan aku”

Teringat kata-katanya yang membuatku menyadari posisiku sejak dulu. Tak ada yang istimewa.

“Kamu tetaplah istimewa untukku”

Katamu aku istimewa, tapi aku menginginkan istimewa yang berbeda. Tak hanya sekedar menjadi sahabatmu. Telah lama aku pendam perasaan ini dan berusaha untuk menyangkalnya. Tak ada inginku untuk mengubah keadaan yang terukir indah antara kita.
Tapi kehadirannya membuatku menyadari, rasa ini tak harus kusangkal. Lelaki itu menjadi duri dalam daging antara aku dan melodiku. Nada-nada menjadi sumbang.

Saat lelaki itu yang adalah abangku sendiri membuat nada-nada hidupku menjadi rusak. Dia menyatakan perasaannya kepada melodiku, tidak, bukan lagi melodiku. Meminta aku untuk menyatukan mereka.

“Dek, comblangin aku dong sama Nasya”

Saat itu gong yang berbunyi di telingaku. Gong pertanda bahaya. Bunyinya semakin terdengar ketika pendeta menyatakan…

“Saat ini saya nyatakan kalian sebagai suami istri”

Hatiku teriris, tapi aku harus merelakannya. Bahagiamu adalah bahagiaku, sahabatku. Lantunkan nada-nada yang indah menjadi melodi baru hidupmu bersama abangku.

No comments:

Post a Comment