Melodi
yang mengalun indah seakan berakhir seiring berakhirnya tahun. Bagiku tak ada
lagi yang memainkan nada-nada untuk hariku. Saat aku duduk di deretan depan
bangku sebuah gereja sederhana yang terletak di atas sebuah bukit. Menyaksikan
sebuah putusan yang mengakhiri harapanku.
Dia
adalah gadis yang aku kenal hampir seluruh hidupku. Gadis yang selalu ada untuk
saling berbagi suka dan duka. Setiap jejak hidupku selalu ada dia yang
menjadikannya lebih indah.
“Maafkan aku”
Teringat
kata-katanya yang membuatku menyadari posisiku sejak dulu. Tak ada yang
istimewa.
“Kamu tetaplah istimewa untukku”
Katamu
aku istimewa, tapi aku menginginkan istimewa yang berbeda. Tak hanya sekedar
menjadi sahabatmu. Telah lama aku pendam perasaan ini dan berusaha untuk
menyangkalnya. Tak ada inginku untuk mengubah keadaan yang terukir indah antara
kita.
Tapi
kehadirannya membuatku menyadari, rasa ini tak harus kusangkal. Lelaki itu
menjadi duri dalam daging antara aku dan melodiku. Nada-nada menjadi sumbang.
Saat
lelaki itu yang adalah abangku sendiri membuat nada-nada hidupku menjadi rusak.
Dia menyatakan perasaannya kepada melodiku, tidak, bukan lagi melodiku. Meminta
aku untuk menyatukan mereka.
“Dek, comblangin aku dong sama Nasya”
Saat
itu gong yang berbunyi di telingaku. Gong pertanda bahaya. Bunyinya semakin
terdengar ketika pendeta menyatakan…
“Saat
ini saya nyatakan kalian sebagai suami istri”
Hatiku
teriris, tapi aku harus merelakannya. Bahagiamu adalah bahagiaku, sahabatku.
Lantunkan nada-nada yang indah menjadi melodi baru hidupmu bersama abangku.
No comments:
Post a Comment