Tuesday, 26 January 2016

[-493] Berdamai Dengan Masa Lalu

Aku menatap rumah minimalis yang ada di depanku.

Apakah aku siap?

"Dek, bawain kue ini yah ke rumah abang. Daryl suka banget soalnya"

Apa tak seorang pun memahami perasaanku? Apa kurang jelas dipandangan mereka ketika hari-hariku tak pernah terlepas dari makhluk yang namanya Nasya?

"Ma, kenapa nggak mama aja yang bawa sendiri sih?"

"Mama mau arisan di kantornya papa dek. Lagian kamu belum ketemu abang sama Nasya kan? Daryl juga"

Saat Daryl lahir aku tidak berada di sini. Kini dia sudah berumur 5 tahun. Tahun ini dia sudah akan duduk di taman kanak-kanak. Nasya sering men-tag akun facebookku di seluruh foto anak itu. Dia anak yang ceria. Sangat mirip abang waktu kecil tapi kulitnya jauh lebih terang seperti ibunya.

"Mama!!! Ada orang di depan pagar!!!"

Tak ada orang lain selain diriku di depan pagar yang dimaksud.

"Bagas?"

Dia meninggalkan anak itu di depan pintu. Memperpendek jarak denganku.

"Kamu akhirnya pulang Gas, ayo masuk"

Dia jauh berbeda dengan Nasya yang ku kenal. Kini dia lebih anggun, lebih dewasa. Aku mengulurkan tanganku sebagai salam.

"Ah kamu sama aku saja kaku formal begitu"

Nasya membentangkan tangannya lebar dan langsung memelukku. Aroma vanilla ada di sekitar kami. Khas Nasya.

" Ayo masuk"

"Daryl, kasi salam sama papa Bagas"

Bergantian aku menatap Nasya dan Daryl. Anak ini jauh lebih besar dibandingkan di foto. Dia langsung mengarahkan kedua tangannya ke arahku. Minta digendong.

Ragu aku meraih tubuh anak itu. Dia memelukku erat. Ahh. Rasanya telah mengenal anak ini sejak dia lahir. Anak abang dengan Nasya.

Nasya tanpa pamit masuk ke dalam rumah sambil terus tersenyum.

Sya, aku bahagia melihatmu bahagia.

Thursday, 24 January 2013

Habibie & Ainun

Baca cerita sebelumnya di sini
Tia (adit_adit) maaf yah saya buat cerita lanjutannya sendiri :D
Ini adalah ending versi saya sendiri :)
____________________________

Putih berkilau. Sederhana tapi tetap elegan.

Gaun itu baru tiba tadi pagi. Sejak dulu aku memimpikan untuk mengenakan gaun pengantin seperti ini. Sekarang setelah mendapatkannya entah mengapa rasanya datar. Hanya sebuah rasa kagum tanpa dihiasi rasa bahagia.

Hanya sebulan aku dan Richard mempersiapkan semuanya. Tinggal menyebar undangan dan menunggu eksekusi utama. Sebuah ikatan suci yang membuatku tak bisa lepas dari Richard. Pangeran masa kecilku.

Sejak meninggalkan Nara sendirian di dermaga, tak pernah lagi aku melihat orang yang telah merebut kebahagiaanku dengan Adam. Setiap malam aku terus memikirkan malam dimana Nara ada di sampingku. Entah mengapa bayang malam itu tak pernah lepas dariku.

Tapi sudahlah, untuk apa aku memikirkan pria lain sementara aku sudah punya pangeranku. Richard sebentar lagi akan pulang. Seperti biasa aku menungguinya sendirian. Sendiri dalam sepiku. Dan meski Richard selalu ada di ujung penantianku setiap hari, tetap saja tak bisa mengobati sepiku.

Trek...trek...

Sms. Dari Richard.
Sayang, aku pulang telat
Kamu gak usah nungguin aku.
Love you. :*

Semakin panjang kesendirianku hari ini. Aku ingin menghirup udara segar. Keluar sebentar mungkin akan menghibur.
***

Aku duduk di studio yang berbeda dari tempat aku pertama kali bertemu dengan Nararya. Aku tak berniat mengingatnya lagi. Tapi tempat ini terus mengingatkanku padanya. Aku masuk ketika film Habibie & Ainun sementara di putar. Aku asal memilih film.

Sedikit harap bertemu dengan Nara, tapi dia tak mungkin suka film ini.

Aku sama sekali tidak begitu masuk pada film ini. Pikiranku melayang pada seseorang. Ku lihat beberapa kali Richard menelpon. Tapi aku sedang tak ingin mendengar suaranya. Nanti juga bertemu sebentar.

"Medina?"

Suara itu...

"Medina?"

 Kepalaku tak sejalan dengan keinginanku. Aku tidak ingin melihat pemilik suara itu. Tapi kepalaku berpaling melihat ke arah sumber suara. Tubuhku mengeras melihat jelas pemilik suara itu. Penonton sudah banyak yang keluar studio.

***

Tak ada yang kami bicarakan selama beberapa menit awal. Yang aku tahu hanyalah kerinduan yang amat sangat terpancar dari mata masing-masing kami.

"A-aku akan menikah"

Mulutku kering. Sesalku ketika melihat ekspresi Nara. Dia hanya tertunduk. Aku bisa merasakan sakit yang dia rasakan. Aku merasakannya...

Karena aku mencintainya, pangeran patah hatiku.

bersambung...


Friday, 11 January 2013

[-494] - Seseorang Dari Masa Lalu

Seperti biasa, jika sedang tak ada jam pelajaran aku mengasingkan diri di tempat ini. Tempat yang sejak dulu menjadi tempat favoritku. Di tempat ini adalah satu-satunya tempat di mana aku bisa memandangi dia, tanpa dia sadari.

Sejak bergabung bersama sekolah ini untuk kedua kalinya, tidak lagi sebagai siswa tapi seorang guru, setiap harinya aku selalu mampir ke tempat ini. Sekedar mengenang saja. Mengenang kasih yang tak sampai di masa lalu.

Aku menghabiskan waktu untuk sekedar duduk, mendengarkan lagu-lagu dari I-pod, membaca buku-buku yang aku bawa dari rumah, atau untuk mempersiapkan materi untuk kelas selanjutnya.

Sebentar lagi aku harus mengajar. Dan hari ini merupakan hari yang sangat melelahkan. Hanya pada jam pertama ini aku mendapatkan jam kosong. Setelahnya harus mengajar sampai jam sekolah selesai. Aku sendiri di dalam gedung olahraga ini. Membuatku tak enggan untuk sedikit menaikkan volume suaraku untuk bersenandung.

Ahhh. Waktu yang sangat menyenangkan. Tapi... sebentar lagi kelas berikut akan di mulai. Aku harus segera pergi.

Tunggu sepertinya aku merasa sedang dipandangi? Tapi bukannya gedung ini kosong pada jam pertama? Tak ada orang yang ada di trii...Eits...Siapa itu? Seorang pria sedang mengarahkan pandangannya padaku. Tidak, tidak. Dia tidak boleh tahu kalau aku mengetahui keberadaannya.

Sepertinya aku mengenal orang itu. Dia terasa tak asing. Wajahnya, caranya duduk, dia...?

Teng teng teng teng...

Ah apa peduliku siapa dia. Aku harus ke kelas segera.

Tapi... tunggu. Apakah dia? Orang yang membuatku menyukai tempat ini hingga kini? Diakah? Untuk apa dia berada di sini?

[-495] - Wanita Lapangan Basket


Melangkahkan kaki memasuki sekolahku dulu membuat aku merasa bersemangat. Sekolah ini menjadi saksi masa puberku. Tempat ini juga adalah dimana aku menyadari ada yang berbeda denganku saat berada di dekat Nasya, sahabatku, kakak iparku.

Sudah hampir lima tahun berlalu saat aku merelakan Nasya kepada abangku. Memutuskan kembali karena aku benar-benar yakin aku sudah merelakan dia sepenuhnya.

Aku juga tahu kepulanganku ini membawa harapan baru bagi keluarga untuk bisa melihatku membawa melodiku yang baru. Apa mau dikata belum juga aku menemukannya.

Firasatku mengatakan aku harus kembali ke sekolah ini. Entah apa yang akan aku dapatkan. Tapi aku tidak berpikir untuk mendapatkan apa yang keluargaku inginkan. Murni hanya untuk mengobati rasa kangen kepada masa lalu yang membawaku kemari.

Saat SMA dulu tak pernah aku berada jauh dari Nasya. Kami bagaikan perangko dan amplop. Membuat seluruh kenangan di sekolah ini hanyalah Nasya seorang. Betapa naifnya aku, berpikir Nasya adalah segalanya, begitu juga sebaliknya. Betapa naifnya aku, tak pernah memandang orang lain selain Nasya.

Aku hampir tidak melihat orang di luar ruangan. Jam pelajaran masih saja berjalan. Aku memutuskan untuk pergi ke gedung olahraga. Tempat biasa aku menghabiskan waktu istirahat bersama Nasya.

Gedung kelihatannya kosong. Aku memilih duduk di tribun tengah paling belakang. Dari posisi ini aku bisa melihat keseluruhan dalam gedung. Saat aku pejamkan mata menikmati suasana hening, ada suara lain. Seseorang sedang melantunkan sebuah lagu. Sangat halus.
Aku membuka perlahan mataku. Mencari-cari sumber suara itu. Ada seseorang yang duduk di bawah ring basket. Dia sedang membaca buku. Dia sedang mendengarkan lagu. Dia bernyanyi mungkin mengikuti lagu yang dia dengarkan. Dan dia adalah wanita.

Wanita itu tak menyadari keberadaanku. Dia sedang tenggelam dalam bacaannya. Setelah diperhatikan lebih jelas lagi, sepertinya aku mengenal wanita itu. Dia terasa tak asing.

Tahu-tahu bel berbunyi. Pergantian jam pelajaran. Wanita itu menutup bukunya, membawa beberapa barang yang berserakan di sampingnya.

[-496] - Melepas Melodi


Melodi yang mengalun indah seakan berakhir seiring berakhirnya tahun. Bagiku tak ada lagi yang memainkan nada-nada untuk hariku. Saat aku duduk di deretan depan bangku sebuah gereja sederhana yang terletak di atas sebuah bukit. Menyaksikan sebuah putusan yang mengakhiri harapanku.

Dia adalah gadis yang aku kenal hampir seluruh hidupku. Gadis yang selalu ada untuk saling berbagi suka dan duka. Setiap jejak hidupku selalu ada dia yang menjadikannya lebih indah.

“Maafkan aku”

Teringat kata-katanya yang membuatku menyadari posisiku sejak dulu. Tak ada yang istimewa.

“Kamu tetaplah istimewa untukku”

Katamu aku istimewa, tapi aku menginginkan istimewa yang berbeda. Tak hanya sekedar menjadi sahabatmu. Telah lama aku pendam perasaan ini dan berusaha untuk menyangkalnya. Tak ada inginku untuk mengubah keadaan yang terukir indah antara kita.
Tapi kehadirannya membuatku menyadari, rasa ini tak harus kusangkal. Lelaki itu menjadi duri dalam daging antara aku dan melodiku. Nada-nada menjadi sumbang.

Saat lelaki itu yang adalah abangku sendiri membuat nada-nada hidupku menjadi rusak. Dia menyatakan perasaannya kepada melodiku, tidak, bukan lagi melodiku. Meminta aku untuk menyatukan mereka.

“Dek, comblangin aku dong sama Nasya”

Saat itu gong yang berbunyi di telingaku. Gong pertanda bahaya. Bunyinya semakin terdengar ketika pendeta menyatakan…

“Saat ini saya nyatakan kalian sebagai suami istri”

Hatiku teriris, tapi aku harus merelakannya. Bahagiamu adalah bahagiaku, sahabatku. Lantunkan nada-nada yang indah menjadi melodi baru hidupmu bersama abangku.

[-497] - Papa

Tak seperti biasanya kita berdua berdiam seperti ini. Hanya duduk dalam waktu yang lama. Dan kau menarik nafas panjang.

“Kalau papa dapat uang hari ini semua buat biaya kuliah kamu”

Tanpa menunggu tanggapanku kau beranjak. Derai air mataku jatuh begitu saja. Melihat punggungmu membuatku hatiku tersayat. Aku tahu kau leh, tidak sekuat dulu lagi, tapi berusaha menunjukkan kepadaku kalau kau mampu memberi yang terbaik untukku. Inginku peluk dirimu.

Aku berjanji akan melakukannya dengan sangat baik. Tak akan aku kecewakan dirimu. Suatu saat nanti kau akan tersenyum bahagia melihatku berhasil meraih segala impianku. Berkat dirimu mimpi itu semakin dekat dari genggamanmu.

Thursday, 10 January 2013

BUKAN FLASH FICTION

"ALASAN!!!"

Itu yang saya teriakkan pada diri saya sendiri. Huhuhuhuh. Padahal tahun ini sudah punya komitmen untuk menulis 500 FF. Tapi hari kesepuluh baru bisa menyelesaikan dua saja.

Ya ya ya. Alasan dan alasan. Beberapa hari notebook saya kebetulan kehabisan energi atau kata lainnya battery empty. Ya benar. sebuah alasan.

Hampir tiga hari kampung halaman Leilem tercinta diisolasi oleh PLN. Ya sebenarnya tidak sepenuhnya salah si PLN. Tapi salah saya sendiri.

MALAS!!!

Mungkin malas yang menjadi aktor terpenting dalam kasus ini. Aigooo. Okay okay. Harus lebih berkomitmen pada diri sendiri.

Go go SEMANGAT !